malam ini ‘katanya’, Supermoon.
se-Super apa ya?
apa cukup ngebuat semua yang lagi malem mingguan berdua jadi pasang-surut-hatinya?
Btw, hati yang mana? hati yang lagi nulis inihh?
hhh,
ini hati yang nggak malem mingguan.
yang sebenernya lagi pasang surut.
ini hati yang lagi rindu sama rembulan,
tapi sayang, dihadang hujan.
ini hati yang ditinggal bintang,
nggak cuman satu, tapi ribuan.
sepi jadinya.. sendirian..
ini hati yang bentar lagi bakal kosong.
ini hati yang sudah pernah kalah,
dan kalah lagi.
ini hati yang sombong.
ini hati yang sok kuat.
ini hati yang sok ikhlas.
padahal enggak,
ini ringkih..
nggak bercahaya juga,
nggak kaya Supermoon yang lagi ditunggu-tunggu ribuan orang.
Ok, 1-0 untuk bulan!
ini hati cukup heboh juga..
gimana engga?
ini hati udah ngebuat orang-orang yang ngejagainnya khawatir.
takut..
berprasangka,
bahwa langit tak sekuat itu untuk menggantungkan bulan.
malam ini, bukan bulan biasa, ‘katanya’..
lahh kan Supermoon.
Sama! Ini yang digantungin juga bukan hati biasa.
walau rapuh, bukan berarti tidak mampu.
bukan berarti tidak bisa.
ini hati hanya tentang ingin dan tidak.
hati seperti dua pilar penyangga atap. hanya dua.
dua-duanya harus kuat, tak peduli itu ‘sok’ atau ‘pura-pura’,
yang penting kuat.
satu rapuh, satunya menguatkan
satu hancur, satunya juga..
ini hanyalah tentang ingin atau tidak.
seperti langit dimalam hari yang menginginkan bulan.
seperti ini hati yang menginginkannya.
ini hati pandai tentang menutupi,
malu-malu.
seperti bulan yang bersembunyi di balik awan.
menunggu angin, menunggu ‘bergerak’
menunggu.. tidak menuntut.
tidak meminta.
tidak berani.
bulan.. eh! Supermoon.. ini hati sama loh.
sama-sama diatur sama waktu,
mungkin, sama-sama salah waktu dan tempat kalo hujan gini.
sama-sama cuman bisa gitu dan disitu.
sama-sama digantungin juga.
Eh !